Bromo Safety Guidepart of Explorin

Asal-usul Bromo

ASAL-USUL
Ilustrasi kaldera Tengger: Bromo, Batok, dan Semeru di atas lautan awan

Bromo adalah gunung, tempat suci, dan kampung halaman. Halaman ini merangkum asal nama, legenda, sejarah, dan kehidupan masyarakat Tengger, supaya kunjunganmu lebih bermakna dan lebih sopan. Cerita rakyat kami tandai sebagai cerita rakyat, dan setiap fakta punya sumber.

NAMA

Dari mana kata "Bromo" dan "Tengger" berasal.

Brahma → Bromo

Nama Bromo berasal dari Brahma, dewa pencipta dalam agama Hindu.[1][2] Dalam lafal Jawa, bunyi "a" di suku kata tertentu dibaca mirip "o", jadi Brahma terdengar seperti Bromo.

Rara Anteng + Jaka Seger

Menurut cerita rakyat, "Tengger" adalah gabungan ujung nama dua leluhur: Rara Anteng dan Jaka Seger.[1]

LEGENDA

Kisah Rara Anteng dan Jaka Seger, menurut cerita rakyat.

1

Pasangan di kaki gunung

Rara Anteng dan Jaka Seger menikah dan menetap di kawasan Tengger, tetapi lama tidak dikaruniai anak.[1]

2

Janji kepada dewa

Mereka bertapa dan berjanji: jika diberi keturunan, anak bungsu akan dipersembahkan ke kawah.[4]

3

Janji yang ditagih

Mereka dikaruniai banyak anak. Saat janji hendak diingkari, kawah bergolak dan si bungsu, Raden Kusuma, hilang ke dalam kawah.[1][3]

4

Pesan sang anak

Ia berpesan agar saudara-saudaranya membawa persembahan ke kawah setiap tahun. Dari sinilah Yadnya Kasada.[1][4]

Ada beberapa versi. Sudiro dan Raffles menyebut 25 anak; Indonesia.travel menyebut 24 anak lalu anak ke-25 yang dipersembahkan; GNFI 2025 menyebut 10 anak dengan si bungsu bernama Sukma.[1][3][4][5]

Hari ke-14

Yadnya Kasada digelar pada hari ke-14 bulan Kasada, bulan ke-12 dalam kalender Tengger.[1][4]

Ke kawah

Warga membawa hasil bumi dan ternak, lalu melemparkannya ke kawah sebagai persembahan.[4]

Pura Luhur Poten

Pura di lautan pasir tempat upacara sebelum rombongan naik ke kawah. Dibangun tahun 1996.[3]

SEJARAH

Jejak Tengger dalam prasasti dan catatan sejarah.

929 M

Prasasti Walandit (851 Saka) menyebut tempat suci di pegunungan Tengger yang dihuni hulun hyang, para abdi dewa.[3][1]

Masa Majapahit

Antropolog Robert Hefner berpendapat orang Tengger meneruskan tradisi Hindu-Buddha Jawa, sebagian keturunan pengungsi Majapahit. Pigeaud dan De Graaf punya pandangan berbeda.[6][3]

1973

Pada masa Orde Baru, agama masyarakat Tengger secara resmi dinyatakan Hindu, dengan keterlibatan PHDI.[3]

1989 dan 1996

Pura pertama berdiri di Ngadas (1989), lalu Pura Luhur Poten di lautan pasir (1996).[3]

1997 dan 2005

Kawasan ditunjuk sebagai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (SK Menhut 278/Kpts-VI/1997), lalu ditetapkan seluas 50.276,2 ha (SK 178/Menhut-II/2005).[11]

2015

UNESCO menetapkan Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru Arjuno pada 9 Juni 2015.[12]

TENGGER

Masyarakat yang tinggal di lereng kaldera sampai hari ini.

4 kabupaten

Wilayah Tengger tersebar di Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.[7]

36 desa

Mongabay mencatat 36 desa Tengger yang masih menjalankan adat.[7]

Dukun pandita

Tiap desa punya dukun adat yang memimpin upacara. Kini mereka tergabung dalam Paruman Dukun Pandita.[3]

Tengger tidak mengenal kasta atau istana seperti di Bali; adat dijaga oleh desa dan dukunnya.[6] Agama warganya beragam. Di Ngadas, Malang, sekitar 50% beragama Buddha, 40% Islam, dan 10% Hindu, dan semuanya tetap menjaga adat bersama.[7]

Yadnya Kasada

Persembahan tahunan ke kawah Bromo, mengenang pesan Raden Kusuma.[4]

Karo

Hari raya besar Tengger, diisi dengan saling berkunjung antarwarga.[7]

Entas-entas

Upacara untuk menyempurnakan arwah keluarga yang sudah meninggal.[7]

Unan-unan

Digelar setiap 4 atau 5 tahun dengan persembahan kerbau. Di Wonokerso disebut juga Mayu Bumi.[8]

Orang Tengger memakai sarung dengan simpul yang berbeda sesuai keperluan. Arti simpul sarung perempuan di Ranu Pani dijelaskan di sumber ini.[15]

LANSKAP

Kaldera purba, lima kerucut, dan gunung para dewa.

± 16 km

Lebar kaldera Tengger, sisa gunung api purba. Dasarnya kini lautan pasir.[9]

5 kerucut

Bromo, Batok, Kursi, Widodaren, dan Watangan. Hanya Bromo yang aktif.[9]

Mahameru

Dalam naskah Tantu Panggelaran, para dewa memindahkan Gunung Meru dari India ke Jawa; puncaknya menjadi Semeru.[10]

Bromoaktif
Batoktidak aktif
Kursitidak aktif
Widodarentidak aktif
Watangantidak aktif
ETIKA

Bromo adalah tempat suci. Ini yang perlu kamu jaga.

Kawasan tutup saat Kasada

Pada 2026 kawasan ditutup untuk wisata 30 Mei sampai 2 Juni, mengikuti surat edaran Paruman Dukun Pandita.[13]

Hormati area sakral

Pura Luhur Poten dan kawah adalah tempat upacara. Jangan mengganggu persembahyangan, dan ikuti arahan warga.[4]

Ada sanksi adat

Paralayang dan aeromodelling di kawasan sakral dilarang. Pelanggar bisa dikenai sanksi adat.[14]

Lihat aturan keselamatan